Memanfaatkan hutang dengan baik
Setelah berpikir berulang-ulang, akhirnya kami (saya dan suami) memberanikan diri membeli mobil. Bukan mobil mewah, hanya sekedar mobil keluarga, agar kalau ada teman dan saudara, bisa muat dalam satu mobil itu. Maklum mobil yang lama tak terasa telah berumur 19 tahun lebih, ibarat gadis, sudah waktunya dipinang orang.
Setelah mencari info berapa harga mobil dari berbagai merk yang satu tipe, ujung2nya saya dan suami memutuskan memilih Toyota. Alasannya sederhana, kami telah mengenal Toyota sejak lama, dan selama ini jika ada masalah, bengkel Toyota juga masih dekat dengan rumah. Alasan yang sangat sederhana, menjadi teringat bahwa bagi konsumen, memilih kendaraan sama seperti memilih hal-hal lain yang secara tak langsung dikaitkan dengan “rasa”. Karena mobil milik pribadi yang pertama kali ber merk Toyota, maka akhirnya setiap kali ingin ganti mobil, belinya ya kembali merk tersebut. Ini bukan iklan, namun sekedar kepraktisan karena sudah kenal orang2nya, bengkelnya dsb nya. Seperti jika kita pergi ke salon, maka kita akan selalu kembali ke salon tersebut jika kita suka dengan pelayanannya, atau juga tukang jahit dimana kita suka menjahitkan baju kita.
Setelah memutuskan jenis dan merk mobilnya, maka keputusan selanjutnya adalah dana pembelian mobil akan diperoleh dari mana. Disini tentu saja, kami menghitung berapa uang yang telah kami tabung, diluar uang untuk operasional rumah tangga dan keperluan pendidikan, yang ternyata setelah dihitung masih kurang. Sebetulnya cukup jika menggunakan uang cadangan, namun jika uang itu dipakai, kawatir jika terjadi kesulitan akan repot lagi. Awalnya saya akan mengkredit sebagian dari harga pembelian mobil tersebut, di leasing yang merupakan grup usaha dari perusahaan, apalagi bunga dalam satu tahun pertama 3,5 persen. Setelah diskusi panjang lebar, disimpulkan sebenarnya uang angsuran per bulan untuk mencicil kekurangan harga mobil masih memenuhi kriteria (yaitu maksimal 35 persen dari pendapatan bulanan).
Kemudian saya mencoba menghubungi sebuah Bank, menanyakan jika dengan pendapatan yang kami terima setiap bulan berapa maksimal kami dapat pinjaman. Ternyata setelah dihitung-hitung pinjaman yang akan dibayar secara angsuran pada Bank tersebut lebih tinggi dibanding jika saya membeli sebagian secara leasing. Namun kelebihannya, dengan meminjam di Bank tersebut, sekaligus kami dapat membeli asuransi jiwa, sehingga jika si berhutang meninggal sebelum hutang berakhir, maka akan dilunasi oleh perusahhaan asuransi sehingga anak dan suami/isteri tak mendapat warisan hutang. Di satu sisi, STNK mobil masih bisa kami pegang, karena kami pinjam didasarkan atas kredit pegawai, bukan unuk membeli mobil. Sebagai konsekuensinya saya menandatangani surat kuasa memotong gaji (yang memudahkan, karena tiap bulan cicilan akan dipotong langsung dari gaji), menyerahkan SK kepegawaian pada Bank tersebut. Setelah berdiskusi dengan suami, kami memutuskan untuk mengambil pinjaman pada Bank, sehingga pembelian mobil Toyota dianggap lunas, BPKB serta STNK diserahkan langsung kepada kami.
Ini hanya merupakan salah satu contoh sebuah keputusan tentang manajemen keuangan rumah tangga, bagaimana kita memilih keputusan yang sesuai bagi rumah tangga. Keputusan ini bisa berbeda dengan rumah tangga yang lain, karena sangat tergantung pada kebutuhan rumah tangga masing-masing.